← Kembali ke Berita

Saya membayangkan bumi ini seperti sebuah rumah tua.

Bagian depannya megah: kaca besar, lampu terang, furnitur mahal. Itulah belahan bumi utara. Semua tampak rapi. Teratur. Mengkilap.

Tapi jika kita berjalan ke belakang rumah, kita akan melihat sesuatu yang berbeda. Tanahnya masih basah. Ada pohon-pohon. Ada orang-orang yang masih menanam, memanen, berbagi. Itulah belahan bumi selatan.

Aneh. Rumah ini dibangun dari belakang. Tapi yang dibanggakan justru bagian depan.

Dan sekarang, bagian depan itu mulai retak.

Kita sedang hidup di zaman yang penuh ironi. Teknologi melesat. Gedung menjulang. Angka-angka ekonomi naik. Tapi manusia justru kehilangan arah. Kita seperti berlari sangat cepat, tanpa tahu ke mana.

Pertumbuhan ekonomi menjadi mantra. Semua negara menghafalnya. Semua pemimpin mengulanginya. Seolah-olah semakin tinggi angka pertumbuhan, semakin bahagia manusia.

Padahal tidak selalu.

Pertumbuhan itu sering dibayar mahal. Hutan ditebang. Sungai tercemar. Udara dipenuhi racun. Tanah kehilangan kesuburannya. Alam dipaksa bekerja lebih keras dari kemampuannya.

Manusia pun ikut lelah.

Di kota-kota besar, manusia hidup dalam ruang sempit. Rumah menjadi mahal. Makanan semakin jauh dari sumbernya. Air bersih menjadi barang langka. Energi semakin mahal.

Kita hidup dalam kemajuan, yang perlahan menggerogoti kehidupan itu sendiri.

Di sinilah kritik terbesar muncul.

Sistem global hari ini dibangun di atas tiga pilar yang tampak kuat, tetapi sebenarnya rapuh: konsumerisme, globalisasi tanpa kendali, dan pertumbuhan tanpa batas.

Konsumerisme membuat manusia tidak pernah puas. Selalu kurang. Selalu ingin lebih. Hidup diukur dari apa yang dimiliki, bukan siapa kita sebenarnya.

Globalisasi membuat ekonomi terpusat. Produksi di satu tempat. Konsumsi di tempat lain. Jarak semakin jauh. Ketergantungan semakin tinggi.

Pertumbuhan tanpa batas adalah ilusi terbesar. Tidak ada yang bisa tumbuh tanpa batas di dunia yang terbatas. Bahkan tubuh manusia pun tahu kapan harus berhenti tumbuh.

Tapi ekonomi? Ia terus dipaksa membesar.

Dan kita semua ikut terjebak di dalamnya.

Namun, di tengah kegaduhan itu, ada suara yang pelan. Tidak keras. Tidak dominan. Tapi tetap bertahan.

Suara itu datang dari selatan.

Dari desa-desa kecil. Dari komunitas adat. Dari kelompok-kelompok yang sering dianggap “tertinggal”.

Mereka tidak punya gedung tinggi. Tidak punya teknologi canggih. Tapi mereka punya sesuatu yang mulai hilang di dunia modern: hubungan.

Hubungan dengan tanah. Hubungan dengan alam. Hubungan dengan sesama manusia.

Di sana, tanah bukan sekadar aset. Ia adalah sumber kehidupan. Air bukan sekadar komoditas. Ia adalah anugerah. Makanan bukan sekadar barang. Ia adalah hasil kerja bersama.

Dan yang paling penting, manusia tidak hidup sendiri.

Peter Davis (2025) melihat ini dengan jernih.

Ia mengatakan: justru di selatan, di antara mereka yang sering disebut “yang paling kecil”, tersimpan harapan dunia.

Bukan karena mereka lebih kaya. Justru karena mereka belum sepenuhnya kehilangan jati diri.

Mereka masih punya akses ke alam. Mereka masih hidup sederhana. Mereka masih memandang hidup sebagai relasi, bukan kompetisi.

Ini bukan romantisme. Ini kenyataan.

Memang, mereka juga menghadapi tekanan besar. Kemiskinan. Keterbatasan. Ancaman dari luar. Eksploitasi sumber daya. Perampasan tanah.

Tapi di balik semua itu, mereka masih menyimpan benih.

Benih peradaban alternatif.

Pertanyaannya: apakah benih itu bisa tumbuh?

Jawabannya: bisa, jika kita mengubah cara kita melihat ekonomi.

Selama ini, ekonomi selalu dipahami dari atas. Negara merancang. Korporasi menjalankan. Masyarakat mengikuti.

Ini pendekatan top-down.

Masalahnya, pendekatan ini sering tidak melihat realitas di bawah. Ia seragam. Ia kaku. Ia jauh dari kehidupan sehari-hari.

Peter Davis menawarkan jalan lain: bottom-up.

Ekonomi dari bawah.

Ekonomi yang tumbuh dari komunitas. Dari kebutuhan nyata. Dari kekuatan lokal.

Ini bukan teori baru. Ini sudah dipraktikkan sejak lama, dalam bentuk koperasi.

Koperasi (CU) bukan sekadar lembaga keuangan. Ia adalah cara hidup.

Di dalam koperasi, orang tidak datang sebagai konsumen. Mereka datang sebagai anggota. Sebagai pemilik. Sebagai bagian dari komunitas.

Ada rasa memiliki. Ada tanggung jawab. Ada solidaritas.

Inilah yang membuat koperasi berbeda.

Ketika ekonomi global mendorong kompetisi, koperasi mengajarkan kerja sama. Ketika sistem modern mendorong individualisme, koperasi membangun kebersamaan. Ketika pasar hanya mengejar keuntungan, koperasi mengejar kesejahteraan bersama.

Tapi koperasi pun menghadapi tantangan.

Banyak koperasi besar mulai kehilangan arah. Terjebak dalam logika pasar. Mengejar efisiensi, tetapi melupakan nilai.

Prinsip “peduli pada komunitas” sering hanya menjadi slogan. Indah di kata. Kosong di tindakan.

Ini yang dikritik oleh Davis.

Ia tidak menolak koperasi besar. Tapi ia mengingatkan: kembali ke akar.

Koperasi harus kembali menjadi milik komunitas. Kembali membangun solidaritas. Kembali menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar institusi ekonomi.

Di sinilah peran komunitas menjadi sangat penting.

Ekonomi tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus berakar pada budaya, pendidikan, dan nilai.

Komunitas yang kuat akan melahirkan ekonomi yang sehat. Komunitas yang lemah akan melahirkan ekonomi yang rapuh.

Karena pada akhirnya, ekonomi bukan tentang angka. Ia tentang manusia.

Dan manusia hanya bisa berkembang dalam relasi.

Ada satu hal yang sering kita lupakan: hubungan dengan alam.

Modernisasi membuat manusia merasa terpisah dari alam. Kita hidup di dalam beton. Kita makan dari supermarket. Kita minum dari botol.

Kita lupa dari mana semua itu berasal.

Padahal, tanpa alam, tidak ada ekonomi.

Air. Tanah. Udara. Energi. Semua berasal dari alam. Jika alam rusak, ekonomi pun runtuh.

Karena itu, Davis menekankan: ekonomi harus selaras dengan alam.

Bukan melawan. Bukan mengeksploitasi. Tetapi bekerja bersama.

Ini bukan hanya soal lingkungan. Ini soal keberlanjutan hidup manusia itu sendiri.

Lalu, apa tujuan akhirnya?

Sederhana. Tapi sering dilupakan.

Mengangkat manusia keluar dari kemiskinan. Meningkatkan kualitas hidup. Menciptakan masyarakat yang adil dan berkelanjutan.

Bukan sekadar membuat orang kaya. Tapi membuat hidup lebih manusiawi.

Ini yang sering hilang dalam perdebatan ekonomi modern.

Kita sibuk bicara pertumbuhan. Tapi lupa bicara kehidupan.

Saya teringat satu gambaran sederhana.

Jika ekonomi modern adalah mesin besar (keras, cepat, dan bising), maka ekonomi komunitas adalah kebun.

Ia tumbuh perlahan. Ia membutuhkan kesabaran. Ia tidak selalu terlihat spektakuler.

Tapi ia memberi kehidupan.

Dan yang paling penting, ia berkelanjutan.

Pertanyaannya sekarang: kita mau memilih yang mana?

Tetap mempertahankan mesin yang mulai rusak? Atau mulai merawat kebun yang memberi harapan?

Tidak ada jawaban mudah.

Tapi satu hal pasti: kita tidak bisa terus berjalan dengan cara yang sama.

Dunia sudah berubah. Krisis semakin nyata. Alam memberi tanda.

Dan mungkin, jawaban itu memang tidak datang dari tempat yang kita duga.

Bukan dari pusat kekuasaan. Bukan dari gedung-gedung tinggi. Bukan dari angka-angka ekonomi.

Tetapi dari desa-desa kecil. Dari komunitas sederhana. Dari mereka yang masih hidup dekat dengan tanah dan sesama.

Dari selatan.

Di sanalah harapan itu masih berdenyut.

Pelan. Tapi nyata.

Dan mungkin, justru di situlah masa depan dunia sedang ditanam.

Catatan: Negara Utara adalah pusat kekuatan ekonomi, teknologi, dan keuangan dunia (Amerika Serikat, Kanada, negara-negara Eropa Barat dan Utara, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru). Sedangkan negara Selatan adalah wilayah yang sedang berjuang mengejar ketertinggalan pembangunan, seperti Asia (termasuk Indonesia), Afrika, dan Amerika Latin.

Diolah dari refleksi Munaldus, Penasehat inKUR, 29 April 2026, atas pemikiran Peter Davis (2025).

Bagikan