← Kembali ke Berita

Oleh: Munaldus, Penasehat INKUR

Ada banyak koperasi yang lahir dengan niat baik, tetapi tidak banyak yang berhasil menjelma menjadi pemain besar tanpa kehilangan jiwa. Di situlah Saigon Co.op menarik untuk dipelajari. Ia bukan sekadar jaringan toko. Ia adalah bukti bahwa koperasi bisa masuk ke jantung pasar modern, bertarung di arena ritel yang keras, lalu menang-tanpa harus membuang identitasnya sebagai gerakan ekonomi rakyat (koperasi). Saigon Co.op lahir di Kota Ho Chi Minh pada 1989 dan kemudian tumbuh menjadi salah satu pemimpin ritel modern Vietnam, dengan sekitar 800 titik layanan yang memegang brand Co.opmart dan Co.op Food, hadir di 43 dari 63 provinsi/kota, melayani lebih dari 1 juta pelanggan per hari, dan menguasai sekitar 21,2% pangsa pasar ritel modern.

Kisah seperti ini penting untuk dibaca oleh INKUR. Bukan supaya kita kagum dari jauh. Bukan pula supaya kita sibuk menyalin bentuk luarnya. Tetapi supaya kita mengerti satu hal yang sering dilupakan koperasi-koperasi sektor riil: menjadi koperasi tidak berarti harus kecil. Menjadi koperasi juga tidak berarti anti-modern. Dan menjadi gerakan rakyat tidak berarti harus selamanya puas berada di pinggir pasar.

Saigon Co.op tidak lahir langsung sebagai raksasa. Ia berakar dari sejarah koperasi perdagangan di Kota Ho Chi Minh, dari toko-toko koperasi, pasar koperasi, dan aktivitas distribusi yang sederhana. Jejak sejarah di situs resminya memperlihatkan akar itu: mulai dari koperasi lingkungan, toko niaga negara, sampai aktivitas penjualan bergerak. Artinya, ia bertumbuh dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan dari gagasan yang melayang di langit. Ia tumbuh dari urusan paling dasar: bagaimana barang sampai ke tangan rakyat.

Di sinilah pelajaran pertamanya: banyak koperasi gagal bukan karena tidak punya niat, melainkan karena sejak awal tidak memulai dari problem yang nyata. Mereka terlalu cepat ingin besar, tetapi belum menjadi jawaban. Mereka ingin punya gedung, merek, unit bisnis, dan aset, tetapi belum sungguh-sungguh menemukan denyut kebutuhan pasar. Saigon Co.op justru bertumbuh dari urat nadi kehidupan sehari-hari. Ia tidak mulai dari mimpi yang muluk. Ia mulai dari kebutuhan rumah tangga.

Momentum penting terjadi ketika Saigon Co.op berdiri secara resmi pada 1989, lalu mengambil langkah yang sangat menentukan: beralih dari ritel tradisional ke ritel modern dengan mendirikan Co.opmart Cong Quynh pada 1996. Dua tahun kemudian, Rapat Anggota Tahunan pertamanya, mereka menetapkan arah besar: membangun jaringan Co.opmart menjadi jaringan supermarket terdepan di Kota Ho Chi Minh dan kemudian di seluruh Vietnam. Di sini kita melihat sesuatu yang sangat penting: keberhasilan besar selalu dimulai dari keputusan strategis yang berani. Bukan hanya kerja keras, tetapi keberanian memilih jalan.

Banyak koperasi sesungguhnya rajin. Banyak pengurus dan manajer koperasi juga bekerja siang malam. Tetapi rajin saja tidak cukup. Orang yang rajin mendayung perahu ke arah yang salah tetap tidak akan sampai ke pelabuhan yang benar. Saigon Co.op tampaknya memahami ini sejak awal. Mereka tidak berhenti pada fungsi distribusi konvensional. Mereka membaca perubahan zaman. Mereka melihat bahwa masa depan bukan lagi pasar tradisional semata, melainkan ritel modern yang rapi, efisien, terpercaya, dan dekat dengan keluarga kelas menengah serta kaum pekerja.

Inilah yang membuat Saigon Co.op tampak istimewa. Ia modern, tetapi tidak tercerabut dari rakyat. Ia bertumbuh besar, tetapi tetap sadar untuk siapa ia bertumbuh. Ini berbeda dengan banyak usaha yang ketika mulai membesar justru pelan-pelan menjauh dari basis sosialnya. Mereka naik kelas, tetapi lupa tangga yang mengangkat mereka.

Dari sana, Saigon Co.op tidak berhenti pada satu format usaha. Ia membangun ekosistem. Ada Co.opmart sebagai tulang punggung. Lalu muncul Co.op Food, Co.opXtra, Co.opSmile, Cheers, Finelife, Sense City, kanal Co.op Online, hingga penguatan investasi dan infrastruktur lewat SCID. Kemitraan strategis juga dibangun, termasuk dengan NTUC FairPrice dari Singapura untuk model hypermarket Co.opXtra. Ekosistem ini menunjukkan bahwa Saigon Co.op tidak berpikir dalam logika toko per toko, melainkan dalam logika jaringan. Tidak berpikir titik per titik, melainkan sistem per sistem.

Bagi KKU, BTM dan KPD, di sinilah pelajaran kedua: jangan memandang usaha sebagai unit yang berdiri sendiri. Lihatlah sebagai rantai nilai. Sebuah koperasi ritel tidak hidup hanya dari rak dan kasir. Ia hidup dari pengadaan, logistik, data pelanggan, merek, pengalaman belanja, lokasi, teknologi, kepercayaan, dan kemampuan menjaga arus barang. Banyak koperasi sektor riil jatuh bangun karena berpikir terlalu sempit: usaha dipandang hanya sebagai toko, kebun, pabrik, atau gudang. Padahal usaha yang kuat adalah usaha yang dibangun sebagai ekosistem.

Saigon Co.op juga memberi pelajaran bahwa skala besar tidak boleh membuat koperasi kehilangan arah sosial. Pada 2024, mereka membukukan pendapatan hampir VND 30 triliun. E-commerce menyumbang lebih dari 10% dari total pendapatan, dengan pertumbuhan hampir 50% dibanding tahun sebelumnya. Tetapi di saat yang sama, mereka tetap menjalankan proyek-proyek sosial, mendukung konsumsi produk pertanian dan barang OCOP, serta melakukan ratusan perjalanan penjualan bergerak ke daerah terpencil dan kawasan industri.

Ini pelajaran ketiga yang sangat penting bagi INKUR: koperasi tidak boleh dipaksa memilih antara idealisme dan profesionalisme. Dua-duanya harus berjalan bersama. Idealisme tanpa profesionalisme akan membuat koperasi menjadi mulia tetapi lemah. Profesionalisme tanpa idealisme akan membuat koperasi menjadi besar tetapi kosong. Saigon Co.op tampaknya berhasil menjaga keduanya tetap saling menghidupi.

Yang juga menarik, Saigon Co.op tidak alergi terhadap modernisasi. Pada 2025, mereka menegaskan arah penguatan e-commerce, digitalisasi, logistik, dan bahkan kerja sama transformasi digital dan hijau. Artinya, mereka tidak sedang membela koperasi dengan cara bernostalgia. Mereka membela koperasi dengan cara membuatnya relevan bagi masa kini dan masa depan.

Maka, kalau INKUR ingin belajar dari Saigon Co.op, yang paling utama bukanlah membuka supermarket besar besok pagi. Bukan itu. Yang paling utama adalah mengubah cara berpikir. Dari cara berpikir unit menjadi cara berpikir jaringan. Dari cara berpikir proyek menjadi cara berpikir sistem. Dari cara berpikir usaha kecil-kecilan menjadi cara berpikir ekosistem. Dari cara berpikir "asal jalan" menjadi cara berpikir strategi jangka panjang.

KKU, BTM dan KPD bisa belajar ke sana, bukan hanya dalam arti geografis, tetapi dalam arti mental. Belajar bagaimana koperasi membangun ritel modern yang disiplin. Belajar bagaimana memilih segmen pasar yang jelas. Belajar bagaimana membangun merek yang dipercaya. Belajar bagaimana membuat skala tidak membunuh jiwa. Belajar bagaimana koperasi bisa menjadi pemain utama, bukan pemain pelengkap.

Saigon Co.op seakan sedang mengatakan kepada kita: koperasi jangan minder. Pasar modern bukan milik perusahaan besar semata. Rak-rak toko, pusat belanja, logistik, aplikasi digital, dan rantai pasok tidak diciptakan untuk menolak koperasi. Semua itu hanya alat. Yang menentukan siapa yang menang bukan bentuk hukumnya, melainkan kejernihan visinya, kekuatan organisasinya, dan mutu kepemimpinannya.

Pada akhirnya, kisah Saigon Co.op adalah kisah tentang keberanian melampaui nasib. Ia tidak puas menjadi koperasi yang sekadar hidup. Ia memilih menjadi koperasi yang memimpin. Dan di situlah letak pelajaran paling tajam untuk kita: koperasi yang besar bukanlah koperasi yang melupakan rakyat, tetapi koperasi yang menemukan cara paling modern untuk tetap melayani rakyat.

Kalau KKU, BTM dan KPD sungguh mau belajar, pelajaran itu tidak berhenti pada kekaguman. Ia harus berubah menjadi pertanyaan yang lebih jujur: apakah kedua koperasi tsb berani membangun koperasi ritel yang dikelola setajam korporasi, tetapi berhati sehangat gerakan koperasi? Apakah KKU, BTM dan KPD perlu dibranding ulang menjadi KKU Co.op, BTM Co.op dan KPD Co.op agar identitasnya jelas? Jika itu terjadi, maka bisakah VMU, CAB, TUB, OKOMO dan Prima Best masuk dalam jaringan ritel KKU Co.op atau BTM Co.op? Cabang-cabang KPD menjadi jaringan KPD Co.op?

Jika berani, maka Saigon Co.op bukan sekadar kisah sukses Vietnam. Ia bisa menjadi cermin masa depan kita sendiri.

Bagikan