← Kembali ke Berita

Ada sesuatu yang sedang retak di dunia ini.

Bukan hanya gunung es di kutub.

Bukan hanya hutan yang dibabat.

Bukan hanya sungai yang berubah warna menjadi cokelat limbah.

Yang retak sebenarnya adalah hubungan manusia dengan kehidupan itu sendiri.

Zaman yang Aneh

Kita hidup di zaman yang aneh.

Teknologi makin pintar.

Tetapi manusia makin cemas.

Gedung makin tinggi.

Tetapi hati makin kosong.

Makanan makin banyak.

Tetapi penyakit juga makin banyak.

Kita seperti sedang duduk di dalam mobil mewah yang melaju sangat cepat, tetapi tidak ada yang benar-benar tahu apakah remnya masih berfungsi.

Mantra Pertumbuhan

Dunia modern terus meneriakkan satu mantra: bertumbuh, bertumbuh, bertumbuh.

Ekonomi harus tumbuh.

Kota harus tumbuh.

Konsumsi harus tumbuh.

Produksi harus tumbuh.

Padahal bumi tidak tumbuh.

Hutan tidak tumbuh secepat keserakahan manusia.

Air bersih tidak bertambah secepat jumlah pabrik.

Udara tidak mampu membersihkan dirinya secepat asap yang kita lepaskan.

Kita akhirnya hidup seperti seseorang yang terus mengambil uang dari tabungan tanpa pernah bekerja lagi.

Awalnya terasa kaya.

Lama-lama bangkrut.

Dan mungkin sekarang kita sudah sampai di titik itu: tipping point. Titik ketika bumi mulai kelelahan menopang gaya hidup manusia.

Orkestra yang Kehilangan Dirigen

Ironisnya, elite politik dunia tampak seperti orkestra yang kehilangan dirigen.

Sebagian sibuk mempertahankan kekuasaan.

Sebagian sibuk memproduksi citra.

Sebagian sibuk memelihara perang.

Mereka berbicara tentang kemajuan sambil menjual senjata.

Mereka berbicara tentang demokrasi sambil membiarkan misinformasi tumbuh seperti wabah.

Mereka berbicara tentang kesejahteraan sambil membiarkan generasi muda mustahil membeli rumah.

Dan yang paling menyedihkan: banyak dari mereka masih percaya bahwa solusi atas semua masalah adalah “lebih banyak pertumbuhan ekonomi.”

Padahal pertumbuhan tanpa jiwa sering seperti kanker.

Sel-sel terus bertambah.

Tetapi tubuh perlahan mati.

Kota yang Terang, Manusia yang Tercabut

Lihatlah kota-kota besar hari ini.

Lampunya terang.

Mal penuh.

Internet cepat.

Tetapi banyak manusia hidup seperti tercabut dari akarnya.

Anak-anak lebih akrab dengan layar dibanding pohon.

Orang lebih mengenal avatar digital daripada tetangganya sendiri.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, lebih banyak orang hidup di kota daripada di desa.

Dan tanpa sadar kita sedang kehilangan sesuatu yang sangat mendasar: hubungan dengan alam.

Manusia Bukan Mesin Beton

Padahal manusia sebenarnya bukan mesin beton.

Kita lahir dari tanah.

Tubuh kita terdiri dari air.

Napas kita bergantung pada pohon.

Tetapi peradaban modern memperlakukan alam seperti gudang tanpa dasar.

Hutan dianggap hanya kayu.

Gunung dianggap hanya tambang.

Sungai dianggap hanya saluran industri.

Lalu kita heran mengapa banjir datang lebih sering.

Mengapa cuaca menjadi liar.

Mengapa pangan makin mahal.

Mengapa air bersih mulai menjadi kemewahan.

Manusia yang Makin Terpecah

Yang lebih tragis, di tengah semua krisis ini, manusia justru makin terpecah.

Perang terus berlangsung.

Perdagangan senjata menjadi bisnis raksasa.

Jutaan warga sipil menjadi korban permainan elite politik.

Mereka seperti pion kecil di papan catur kekuasaan global.

Harapan dari Tempat yang Diremehkan

Dan di tengah kekacauan itu, justru terlihat secercah harapan dari tempat yang sering diremehkan dunia: komunitas-komunitas kecil.

Di desa-desa.

Di komunitas adat.

Di wilayah yang masih punya hubungan dengan tanah dan alam.

Di tempat-tempat di mana manusia belum sepenuhnya menjadi budak pasar.

Mengapa?

Karena di sana hubungan antarmanusia masih hidup.

Orang masih mengenal tetangganya.

Tanah masih dianggap ibu, bukan sekadar aset.

Hutan masih dianggap kehidupan, bukan sekadar komoditas.

Koperasi Komunitarian

Di situlah koperasi komunitarian menjadi sangat relevan.

Bukan koperasi yang sekadar mengejar aset.

Bukan koperasi yang hanya sibuk memperbesar gedung.

Tetapi koperasi yang membangun solidaritas.

Yang menjaga manusia tetap terhubung dengan komunitas dan alamnya.

Sebab sesungguhnya krisis dunia hari ini bukan sekadar krisis ekonomi.

Ini krisis makna.

Krisis relasi.

Krisis spiritual.

Manusia modern memiliki terlalu banyak barang, tetapi terlalu sedikit rasa cukup.

Terlalu banyak koneksi internet, tetapi terlalu sedikit koneksi kemanusiaan.

Menolak Dua Ekstrem

Karena itu kita harus menolak dua ekstrem.

Ia menolak kekerasan dan perampasan atas nama ideologi.

Tetapi ia juga menolak sistem yang membiarkan manusia dan alam dihancurkan demi laba tanpa batas.

Ia menawarkan jalan lain: jalan koperasi komunitarian.

Jalan yang dibangun bukan dengan kebencian.

Tetapi dengan solidaritas.

Bukan dengan pemaksaan.

Tetapi dengan kesadaran bersama.

Bukan dengan menghancurkan manusia lain.

Tetapi dengan menghidupkan kembali komunitas.

Menanam Pohon, Bukan Mendirikan Korporasi

Mungkin inilah mengapa koperasi sejati sebenarnya lebih dekat dengan menanam pohon daripada mendirikan korporasi.

Pohon tidak tumbuh sendirian.

Akar-akar di bawah tanah saling terhubung.

Saling berbagi nutrisi.

Saling memperingatkan bahaya.

Hutan bertahan karena ada kerja sama diam-diam di bawah permukaan.

Begitu pula masyarakat.

Ketika manusia kembali belajar bekerja sama, menjaga alam, memperkuat komunitas, dan membangun ekonomi yang manusiawi, di situlah harapan dunia mungkin masih bisa diselamatkan.

Bukan dari gedung-gedung tinggi.

Tetapi dari akar-akar kehidupan yang mulai kita temukan kembali.

Diolah dari refleksi Munaldus, Penasehat inKUR, 12 Mei 2026.

Bagikan