← Kembali ke Berita

Ada pertanyaan yang sering muncul ketika orang mendengar gagasan Persemakmuran Koperasi (Co-operative Commonwealth).

Bukankah itu terlalu muluk? Bukankah itu hanya mimpi? Bukankah itu utopia?

Pertanyaan itu wajar.

Sebab kita hidup di zaman ketika banyak orang lebih mudah percaya pada perusahaan raksasa daripada percaya pada kekuatan rakyat kecil yang bekerja sama.

Kita terbiasa melihat gedung-gedung pencakar langit dibangun oleh konglomerat. Kita terbiasa melihat pusat perbelanjaan dibangun oleh investor besar. Kita terbiasa melihat rumah sakit, universitas, hotel, dan pabrik lahir dari modal segelintir orang kaya.

Karena itu ketika ada yang mengatakan bahwa ratusan ribu anggota Credit Union dapat membangun semuanya bersama-sama, banyak orang tersenyum.

Sebagian kagum. Sebagian ragu. Sebagian lagi menganggapnya sekadar mimpi indah.

Padahal hampir semua hal besar di dunia pernah dianggap mimpi.

Pesawat terbang. Internet. Pendaratan manusia di bulan. Bahkan koperasi itu sendiri.

Pada tahun 1844, ketika 28 orang miskin di Rochdale, desa dekat Manchester, Inggris, mendirikan koperasi kecil, siapa yang menyangka gagasan itu suatu hari menyebar ke seluruh dunia dan melayani lebih dari satu miliar manusia?

Mimpi menjadi mustahil hanya ketika tidak ada yang mulai membangunnya.

Bayangkan sebuah Credit Union yang telah matang. Anggotanya ratusan ribu. Keuangannya sehat. Pendidikannya berjalan. Kepercayaan anggotanya tinggi.

Pertanyaan berikutnya adalah: setelah itu apa?

Apakah Credit Union hanya akan terus menghimpun simpanan dan menyalurkan pinjaman? Ataukah ia mulai melahirkan sesuatu yang lebih besar?

Di sinilah inovasi spin-out menjadi menarik.

Seperti pohon besar yang menumbuhkan cabang-cabang baru dan anak-anak di sekitar dirinya, Credit Union melahirkan koperasi sektor riil.

Lahir koperasi pertanian. Lahir koperasi perdagangan. Lahir koperasi jasa. Lahir koperasi produksi. Lahir koperasi pendidikan. Lahir berbagai entitas ekonomi yang tetap berakar pada anggota yang sama.

Akar tetap satu. Batangnya tetap satu. Tetapi cabangnya semakin banyak. Buahnya semakin beragam.

Inilah yang membedakan Persemakmuran Koperasi dari koperasi biasa.

Ia bukan satu organisasi. Ia adalah jaringan kehidupan.

Dalam sistem seperti ini, Pusat Koperasi Kredit berperan seperti sistem saraf. Ia menghubungkan seluruh jaringan CU/Kopdit. Menyediakan standar. Membangun integrasi. Mengembangkan teknologi bersama. Mengelola likuiditas. Meningkatkan kualitas tata kelola. Mencegah setiap CU/Kopdit berjalan sendiri-sendiri.

Sementara itu inKUR berperan sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai koperasi sektor riil ke dalam satu kekuatan ekonomi yang lebih besar.

Kalau CU adalah tempat menghimpun energi ekonomi anggota, maka inKUR membantu mengubah energi itu menjadi gerakan ekonomi nyata.

Seperti pembangkit listrik yang mengubah aliran air menjadi cahaya. Energi yang sebelumnya tersebar menjadi terorganisasi. Menjadi produktif. Menjadi berdampak.

Lalu seperti apa bentuk Persemakmuran Koperasi itu?

Bayangkan seorang anak anggota lahir. Ia masuk PAUD sampai SLTA milik yayasan koperasi. Masuk perguruan tinggi koperasi.

Setelah lulus ia bekerja di salah satu entitas koperasi. Ketika ingin membuka usaha, ia mendapatkan pendidikan kewirausahaan dan pembiayaan dari CU/Kopdit. Hasil produksinya dibeli oleh jaringan koperasi. Produknya dipasarkan melalui toko-toko koperasi.

Ketika sakit, ia dilayani oleh fasilitas kesehatan yang dibangun koperasi. Ketika tua, ia memiliki tabungan, investasi, dan perlindungan yang dikelola gerakan koperasi. Sepanjang hidupnya ia tidak menjadi objek pembangunan.

Ia menjadi pemilik pembangunan.

Itulah Persemakmuran Koperasi. Bukan sekadar lembaga keuangan, tetapi ekosistem kehidupan.

Apakah ini utopia?

Jika yang dimaksud utopia adalah sesuatu yang mustahil diwujudkan, jawabannya tidak. Karena sebagian unsur itu sudah ada di berbagai tempat.

Mondragon di Spanyol membuktikannya. iCOOP di Korea membuktikannya. Banyak koperasi besar di dunia membuktikannya. Yang belum ada bukan modelnya. Yang belum ada adalah keberanian untuk membangunnya secara utuh.

Karena itu istilah yang lebih tepat bukan utopia.

Melainkan eutopia. Tempat yang baik. Tempat yang mungkin diwujudkan. Tempat yang tidak sempurna, tetapi terus diperjuangkan.

Persemakmuran Koperasi bukan surga. Ia tetap memiliki konflik. Tetap memiliki risiko. Tetap membutuhkan kepemimpinan yang baik. Tetap membutuhkan disiplin dan integritas.

Tetapi ia menawarkan sesuatu yang sangat langka di dunia modern: pembangunan yang berpusat pada manusia.

Mungkin lima puluh tahun dari sekarang, orang akan datang ke tempat kita dan bertanya: bagaimana masyarakat ini bisa membangun hotel, sekolah, universitas, rumah sakit, pusat perdagangan, kawasan wisata, dan berbagai usaha besar tanpa konglomerat?

Jawabannya sederhana.

Mereka melakukannya bersama-sama. Satu anggota berinvestasi hanya Rp 10 ribu per bulan, atau Rp 120 ribu per tahun. Sedikit demi sedikit. Lilin demi lilin. Anggota demi anggota. Lalu 200.000 anggota berkumpul dan saling percaya dengan semangat solidaritas yang luar biasa. Terkumpullah dana investasi Rp 24 miliar setahun.

Sehingga yang lahir bukan hanya kumpulan usaha. Bukan hanya miliaran rupiah setahun. Melainkan sebuah peradaban baru yang dibangun dari bawah. Berbagai proyek besar terbangun. Ribuan lapangan kerja tercipta. Sebuah peradaban yang bertumpu pada solidaritas, pendidikan, dan kerja sama.

Maka Persemakmuran Koperasi bukanlah mimpi kosong. Ia adalah mimpi yang sedang dibangun. Dan semua perubahan besar dalam sejarah manusia selalu dimulai dari sana: dari sebuah mimpi yang cukup berani untuk diwujudkan.

Refleksi Munaldus, Penasihat inKUR, 31 Mei 2026.

Bagikan