← Kembali ke Berita

Saya teringat satu kebiasaan lama di kampung.

Orang menanam pohon. Satu. Dua. Tiga. Lalu berhenti. Sudah merasa cukup. Pohon itu tumbuh. Ada yang berbuah. Ada yang tidak. Tapi semuanya berdiri sendiri-sendiri. Tidak saling bicara. Tidak saling menguatkan.

Padahal, yang membuat tanah tetap hidup bukan pohon. Tapi hutan.

Hutan itu aneh. Ia tidak gaduh. Tapi kuat. Akar-akarnya saling menyapa di dalam tanah. Saling kirim nutrisi. Saling menguatkan ketika badai datang. Pohon yang lemah tidak langsung mati. Ia disokong oleh yang lain.

Saya melihat koperasi kita, termasuk yang berhimpun di inKUR, seperti pohon-pohon itu. Sudah banyak yang tumbuh. Bahkan ada yang menjulang tinggi. Anggotanya puluhan ribu. Asetnya besar. Kita bangga. Itu wajar.

Tapi saya juga mulai gelisah.

Jangan-jangan kita baru menanam pohon. Belum membangun hutan.

Di situlah saya mulai memahami apa itu Persemakmuran Koperasi.

Ia bukan istilah mewah. Bukan juga konsep yang sulit. Ia sederhana. Tapi dalam.

Persemakmuran koperasi adalah ketika koperasi tidak lagi hidup sendiri. Tapi hidup bersama. Saling memiliki. Saling menghidupi. Saling menjaga.

Kalau selama ini kita sibuk membangun koperasi masing-masing, persemakmuran mengajak kita membangun hubungan antar koperasi.

Perubahan ini tidak kecil. Ini perubahan cara berpikir.

Selama ini kita diam-diam masih membawa logika lama: siapa yang lebih besar, siapa yang lebih cepat, siapa yang lebih unggul. Bahkan sesama koperasi pun kadang bersaing. Berebut anggota. Berebut wilayah. Berebut pasar.

Aneh memang. Koperasi yang lahir untuk melawan sistem yang tidak adil, justru meniru cara bermainnya.

Persemakmuran datang seperti air dingin. Menyadarkan.

Ia berkata pelan: kita tidak perlu saling mengalahkan. Kita perlu saling menguatkan.

Di situ saya mulai melihat gambar yang lebih besar.

Bayangkan seorang anggota koperasi. Ia tidak hanya menabung dan meminjam. Ia juga bertani. Ia juga berdagang. Ia juga punya anak yang harus sekolah. Ia juga butuh perlindungan ketika sakit.

Selama ini, koperasi kita baru masuk di satu titik: uang.

Padahal hidup anggota jauh lebih luas dari itu.

Persemakmuran koperasi ingin masuk ke seluruh kehidupan itu.

Anggota meminjam dari CU. Mengembangkan usaha lewat koperasi produksi. Menjual hasilnya melalui koperasi distribusi atau koperasi pemasaran. Membeli kebutuhan di koperasi ritel. Mendapat pendidikan dari lembaga pendidikan koperasi (dari PAUD sampai perguruan tinggi).

Semuanya saling terhubung.

Siklusnya tidak bocor keluar.

Uangnya berputar di dalam. Manfaatnya kembali ke anggota.

Itu bukan lagi koperasi sebagai lembaga. Itu sudah menjadi sistem kehidupan.

Tapi jalan ke sana tidak mudah.

Ada satu titik yang sering membuat kita berhenti: kepemilikan.

Kita mudah bekerja sama. Tapi sulit berbagi kepemilikan. Ego masih kuat. Rasa “ini milik saya” masih tebal.

Padahal tanpa kepemilikan bersama, semua hanya akan berhenti di slogan. Kita akan rajin rapat, tapi tidak pernah benar-benar menyatu.

Persemakmuran butuh keberanian untuk melangkah lebih jauh. Saling menanam modal. Saling menanggung risiko. Saling menikmati hasil.

Kalau itu terjadi, hubungan koperasi bukan lagi formal. Tapi organik.

Seperti akar di dalam tanah.

Ada lagi yang sering kita abaikan: pendidikan.

Kita sibuk membesarkan koperasi. Tapi lupa membesarkan manusia.

Padahal koperasi itu bukan bangunan. Bukan laporan keuangan. Koperasi adalah kesadaran.

Tanpa pendidikan, anggota akan tetap berpikir pendek. Datang hanya untuk pinjam. Pergi ketika tidak butuh. Tidak ada rasa memiliki.

Persemakmuran tidak bisa dibangun oleh anggota yang hanya menjadi pengguna. Ia butuh anggota yang sadar, yang paham, yang percaya.

Di sinilah peran inKUR menjadi penting.

inKUR tidak cukup hanya menjadi penghubung. Tidak cukup hanya memfasilitasi.

inKUR harus menjadi dirigen.

Seperti dalam orkestra. Alat musiknya banyak. Bunyi masing-masing bagus. Tapi tanpa dirigen, hasilnya hanya kebisingan.

Dengan dirigen, semuanya menjadi musik.

inKUR harus menyatukan ritme. Menentukan arah. Mengorkestrasi gerakan.

Bukan lagi sekadar koordinasi. Tapi orkestrasi.

Kalau ini bisa dilakukan, kita tidak perlu terlalu jauh mencari contoh.

Di Spanyol, ada satu nama yang sering disebut: Mondragon Corporation.

Mereka bukan hanya koperasi. Mereka adalah sistem.

Ada industri. Ada ritel. Ada bank. Ada universitas. Semuanya koperasi. Semuanya terhubung.

Ketika satu jatuh, yang lain menopang. Ketika krisis datang, mereka tidak panik. Mereka berbagi beban.

Mereka tidak sempurna. Tapi mereka nyata.

Dan yang paling penting: mereka membuktikan bahwa persemakmuran koperasi itu bukan mimpi.

Saya membayangkan suatu hari nanti, di Kalimantan Barat, seorang anggota koperasi tidak lagi berkata: saya anggota CU ini atau koperasi itu.

Ia akan berkata: saya hidup dalam koperasi.

Usahanya tumbuh karena koperasi. Kebutuhannya terpenuhi di koperasi. Anaknya dididik oleh koperasi. Hidupnya dilindungi oleh koperasi.

Itulah saat di mana koperasi tidak lagi menjadi pilihan.

Ia menjadi jalan hidup.

Mungkin kita belum sampai ke sana. Tapi arah sudah jelas.

Tinggal satu pertanyaan: kita mau tetap menjadi pohon, atau mulai membangun hutan?

Karena pada akhirnya, yang akan bertahan bukan yang paling tinggi.

Tapi yang paling terhubung.

Diolah dari refleksi Munaldus, Penasehat inKUR, 28 April 2026.

Bagikan