← Kembali ke Berita

Ada ironi besar dalam banyak pembicaraan tentang demokrasi.

Orang sibuk membangun mekanisme pemilihan. Membuat aturan. Membagi kekuasaan. Membentuk lembaga.

Tetapi lupa pada satu hal paling mendasar: perekat manusia.

Padahal, demokrasi tanpa perekat sosial hanya akan menjadi gedung megah yang retak dari dalam.

Mendiang Will Watkins, mantan Direktur International Co-operative Alliance (ICA) periode 1951-1963, pernah mengatakan bahwa persatuan adalah prinsip koperasi yang paling penting, bahkan melampaui demokrasi itu sendiri.

Pernyataan itu terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya seperti petir yang menyambar jantung peradaban modern.

Sebab demokrasi sering dianggap tujuan akhir. Padahal demokrasi hanyalah alat.

Ia seperti kapal. Agar kapal itu berlayar, orang-orang di dalamnya harus percaya satu sama lain. Harus merasa senasib. Harus memiliki solidaritas.

Tanpa itu, demokrasi berubah menjadi arena rebutan kursi.

Kita bisa melihatnya di banyak negara. Pemilu berlangsung rutin. Partai politik tumbuh subur. Gedung parlemen berdiri megah.

Tetapi korupsi merajalela. Ketidakadilan melebar. Elite saling memangsa. Rakyat tetap miskin.

Mengapa?

Karena demokrasi dibangun tanpa jiwa persahabatan kewargaan.

Demokrasi akhirnya seperti pasar malam: ramai, berisik, penuh lampu, tetapi kehilangan arah.

Britania abad ke-19 memberi pelajaran penting. Demokrasi di sana tidak lahir mendadak seperti jamur setelah hujan. Ia tumbuh perlahan bersama berkembangnya masyarakat sipil: serikat pekerja, koperasi, organisasi sosial, kelompok pendidikan rakyat, komunitas gereja, dan berbagai perkumpulan warga.

Di situlah orang belajar percaya. Di situlah orang belajar berbeda pendapat tanpa saling membunuh. Di situlah orang belajar bahwa kebebasan pribadi harus berjalan bersama tanggung jawab sosial.

Demokrasi ternyata tidak lahir pertama-tama dari kotak suara. Ia lahir dari meja-meja kecil tempat orang biasa belajar duduk bersama.

Koperasi memahami rahasia itu sejak awal.

Koperasi bukan sekadar lembaga simpan pinjam. Ia bukan hanya toko bersama. Bukan hanya kumpulan modal. Koperasi sesungguhnya adalah sekolah persaudaraan ekonomi.

Di dalam koperasi, orang dilatih untuk berpikir “kita”, bukan hanya “saya”.

Itulah sebabnya prinsip persatuan menjadi sangat penting.

Karena tanpa persatuan, koperasi tinggal bangunan administratif. Ada kantor. Ada rapat anggota. Ada laporan keuangan. Tetapi kehilangan roh.

Persatuan dalam koperasi bukan berarti semua orang harus selalu sepakat. Bukan itu.

Persatuan adalah kemampuan untuk tetap berjalan bersama meskipun berbeda kepentingan.

Ia seperti rumah panjang Dayak.

Tiang-tiangnya banyak. Penghuninya banyak. Karakternya berbeda-beda. Tetapi seluruh rumah berdiri di atas satu fondasi bersama.

Kalau satu tiang utama lapuk, seluruh rumah ikut goyah.

Begitulah masyarakat. Ketika solidaritas runtuh, demokrasi mulai rapuh.

Kita melihat banyak negara pascakolonial mengalami kegagalan bukan semata karena kurang sumber daya alam. Bukan pula hanya karena campur tangan neo-kolonial atau perdagangan global yang tidak adil (meskipun itu nyata adanya).

Masalah yang sering lebih dalam adalah belum tumbuhnya masyarakat sipil yang matang. Kemerdekaan politik datang terlalu cepat, sementara budaya demokrasi belum sempat berakar.

Akibatnya, negara seperti pohon besar yang dipaksa tumbuh tanpa akar yang kuat. Dari luar tampak berdiri. Tetapi sedikit badai langsung tumbang.

Masyarakat yang belum memiliki tradisi kerja sama mudah terpecah oleh suku, agama, kelompok politik, atau kepentingan elite.

Jabatan berubah menjadi alat memperkaya diri. Kekuasaan menjadi kendaraan keluarga. Hukum dapat dibeli.

Dan demokrasi perlahan berubah menjadi panggung oligarki.

Di sinilah pentingnya membangun masyarakat sipil yang sehat. Dan koperasi sesungguhnya memiliki posisi yang sangat strategis.

Karena koperasi melatih manusia untuk mengalami demokrasi secara konkret. Bukan teori. Bukan slogan.

Di koperasi, orang belajar bahwa suara petani kecil sama berharganya dengan suara pengurus. Orang belajar bahwa keputusan bersama membutuhkan kesabaran. Orang belajar bahwa kesejahteraan tidak dibangun dengan menjatuhkan sesama.

Ini pendidikan politik paling mendasar.

Sayangnya, banyak koperasi modern justru kehilangan arah ini. Mereka terlalu sibuk mengejar aset. Mengejar gedung. Mengejar pertumbuhan angka.

Tetapi lupa menumbuhkan solidaritas.

Padahal koperasi tanpa solidaritas ibarat pohon besar yang akarnya keropos. Mungkin tampak kokoh hari ini. Tetapi diam-diam sedang menunggu tumbang.

Persatuan tidak bisa dibangun secara instan. Ia seperti menanam hutan.

Perlu waktu panjang. Perlu pendidikan. Perlu keteladanan. Perlu pengorbanan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Dan yang paling sulit: perlu kemampuan menahan ego.

Karena ancaman terbesar persatuan sering bukan musuh dari luar. Tetapi kesombongan dari dalam.

Ketika orang lebih mencintai posisi daripada misi, persatuan mulai retak.

Ketika organisasi lebih sibuk mempertahankan kelompoknya daripada memperjuangkan kepentingan bersama, solidaritas mulai mati.

Padahal masa depan dunia justru membutuhkan lebih banyak kerja sama.

Krisis ekonomi global. Kerusakan lingkungan. Ketimpangan sosial. Semua itu tidak mungkin diselesaikan oleh manusia-manusia yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

Dunia membutuhkan lebih banyak “rumah panjang”. Lebih banyak ruang di mana manusia belajar hidup sebagai sesama.

Mungkin itulah sebabnya Will Watkins menempatkan persatuan di atas demokrasi. Karena demokrasi tanpa persatuan hanya melahirkan kompetisi tanpa hati. Sedangkan persatuan yang sehat akan melahirkan demokrasi yang bermartabat.

Dan koperasi, ketika tetap setia pada rohnya, sesungguhnya bukan sekadar gerakan ekonomi.

Ia adalah latihan panjang untuk menjadi manusia yang mampu hidup bersama.

Refleksi Munaldus, Penasihat inKUR, 22 Mei 2026.

Bagikan