← Kembali ke Berita

Gerakan koperasi yang besar sering gagal bukan karena kekurangan orang.
Bukan karena kekurangan uang.
Tetapi karena kekurangan satu hal yang tak terlihat: pikiran.

Banyak koperasi tumbuh. Anggota bertambah. Aset naik. Kantor cabang bertambah. Grafik terlihat indah.
Tapi diam-diam, di dalamnya kosong.
Tidak ada yang berpikir. Tidak ada yang bertanya: kita mau ke mana?

Di Korea, iCOOP tidak membiarkan itu terjadi.

Mereka membangun sesuatu yang jarang dipikirkan oleh banyak koperasi: sebuah lembaga berpikir. Sebuah think tank. Sebuah dapur sunyi tempat ide dimasak sebelum disajikan kepada gerakan.

Namanya: iCOOP Co-operative Institute.

Lahirnya bukan kebetulan.

Tahun 2004-2005, dalam rapat umum, muncul kegelisahan. Gerakan koperasi konsumen berkembang. Tapi pertanyaan mulai bermunculan: bagaimana menjaga arah? Bagaimana memastikan gerakan ini tidak sekadar menjadi toko besar yang menjual produk?

Jawabannya sederhana-dan sekaligus radikal: kita butuh lembaga yang berpikir.

Maka tahun 2006, lembaga itu lahir. Bukan sebagai pelengkap. Tapi sebagai fondasi.

iCOOP memahami satu hal yang sering dilupakan: koperasi bukan hanya soal transaksi. Ia adalah gerakan. Dan setiap gerakan membutuhkan arah. Dan arah tidak lahir dari rutinitas. Ia lahir dari refleksi.

Itulah mengapa iCOOP Institute tidak sibuk membuka toko. Tidak sibuk menjual produk. Mereka sibuk membaca, menulis, berdiskusi, dan mendidik.

Mereka menghasilkan puluhan buku. Puluhan jurnal. Puluhan riset.

Mereka mengadakan forum-bukan satu dua kali, tapi puluhan kali.

Mereka menggelar lomba karya ilmiah-untuk melahirkan peneliti koperasi.

Mereka membuka kelas-mengajarkan demokrasi, ekonomi politik, kepemimpinan, bahkan filsafat.

Mereka membangun arsip-menyimpan ingatan gerakan agar tidak hilang ditelan waktu.

Ini bukan aktivitas tambahan.
Ini adalah jantung.

Kita sering berpikir bahwa koperasi kuat karena uangnya besar.
iCOOP menunjukkan: koperasi kuat karena pikirannya dalam.

Tanpa itu, koperasi hanya akan menjadi toko. Mungkin besar. Tapi kosong.
Seperti pohon yang tinggi, tapi akarnya dangkal. Sedikit badai, tumbang.

Yang menarik, iCOOP tidak berhenti pada teori.
Mereka menghubungkan pikiran dengan kehidupan.

Mereka mengembangkan konsep ethical consumption.

Konsumsi bukan lagi soal membeli. Tapi soal memilih-memilih yang benar, memilih yang adil, memilih yang menjaga kehidupan.

Lalu berkembang lagi menjadi Lifecare Movement.

Koperasi masuk ke dalam kehidupan anggota. Bukan hanya dompetnya. Tapi juga kesehatannya, lingkungannya, bahkan jiwanya.

Di sini koperasi berubah wajah.
Dari lembaga ekonomi menjadi gerakan peradaban.

Coba kita berhenti sejenak.

Lihat koperasi sektor riil kita hari ini.
Apakah kita punya ruang untuk berpikir seperti itu?
Atau kita terlalu sibuk menghitung SHU?
Terlalu sibuk mengejar target?
Terlalu sibuk menutup laporan bulanan?

iCOOP memberikan pelajaran yang sangat sunyi, tapi sangat dalam:

Gerakan tanpa pemikiran akan kehilangan arah.
Pemikiran tanpa gerakan akan kehilangan makna.

Mereka menyatukan keduanya.

Ada satu hal lagi yang menarik.

Lembaga ini tidak dibiayai negara. Tidak bergantung pada bantuan luar.
Ia lahir dari anggota. Dibiayai oleh anggota.

Ini penting.
Karena pemikiran yang lahir dari anggota akan selalu kembali kepada anggota.
Ia tidak akan menjadi menara gading.
Ia akan tetap membumi.

Namun iCOOP juga sadar: tantangan tidak pernah berhenti.

Dunia berubah cepat. Kebutuhan anggota berubah. Nilai bisa bergeser.

Di sinilah peran institute menjadi krusial: membaca perubahan, memberi arah, menjaga ruh.

Tanpa itu, koperasi akan terseret arus.
Dan seringkali, arus itu membawa koperasi menjauh dari jati dirinya.

Bagi kita di Indonesia-khususnya di gerakan credit union dan koperasi sektor riil-pelajaran ini sangat relevan.

Kita punya anggota. Banyak.
Kita punya aset. Besar.
Kita punya kantor. Banyak.

Tapi apakah kita punya otak gerakan?
Apakah kita punya tempat di mana ide-ide besar lahir?
Apakah kita punya ruang di mana kita berani mempertanyakan diri sendiri?

Jika tidak, kita sedang berjalan tanpa kompas.
Dan itu berbahaya. Sangat berbahaya.

iCOOP tidak langsung menjadi besar.
Mereka membangun dari dalam.
Membangun pikiran. Membangun kesadaran. Membangun budaya.

Dan itu memakan waktu.
Tapi hasilnya? Kokoh.

Barangkali, inilah saatnya kita bertanya:

Apakah kita ingin koperasi yang besar?
Atau koperasi yang bermakna?

Jika jawabannya keduanya, maka kita harus mulai dari satu hal:

Membangun otak gerakan.
Membangun ruang berpikir.
Membangun budaya belajar.
Membangun kesadaran.

Karena pada akhirnya, koperasi bukan soal berapa besar asetnya.
Tetapi sejauh mana ia mengubah kehidupan para anggotanya.

Dan perubahan itu selalu dimulai dari satu tempat:

Bukan di kantor.
Bukan di rapat.
Tetapi di dalam pikiran.

iCOOP sudah memulainya.

Pertanyaannya: kapan kita menyusul?

Diolah dari presentasi iCOOP yang berjudul: Establishment and Operation of iCOOP Co-operative Institute (2023)

Bagikan WA Facebook LinkedIn