← Kembali ke Berita

Dunia hari ini seperti kota besar yang lampunya semakin terang, tetapi manusianya justru semakin kehilangan arah. Gedung-gedung menjulang. Teknologi melesat. Uang berputar cepat. Namun di banyak tempat, manusia tetap merasa kecil, sendirian, dan rapuh. Petani kehilangan tanah. Anak muda meninggalkan desa. Sungai rusak. Hutan habis. Komunitas tercerai-berai. Ekonomi tumbuh, tetapi kehidupan tidak selalu ikut bertumbuh.

Di tengah situasi itulah gagasan Persemakmuran Koperasi menjadi sangat penting. Peter Davis (2025) menggambarkannya bukan sekadar sebagai kumpulan koperasi yang sukses secara bisnis, melainkan sebagai sebuah jalan hidup bersama: sebuah komunitas ekonomi, sosial, dan budaya yang dibangun oleh rakyat sendiri secara sukarela, demokratis, dan berkelanjutan.

Persemakmuran koperasi bukan gedung. Bukan logo. Bukan pula sekadar aset triliunan rupiah. Ia lebih mirip sebuah hutan tropis. Di dalam hutan, tidak hanya ada satu pohon besar. Ada akar yang saling mengikat di bawah tanah. Ada sungai kecil yang memberi air. Ada lumut, burung, serangga, dan ranting-ranting yang tampaknya kecil tetapi justru menjaga keseimbangan seluruh ekosistem.

Begitulah seharusnya koperasi.

Credit union tidak cukup hanya menjadi tempat simpan pinjam. Ia harus menjadi “mata air”. Dari mata air itu mengalir kehidupan ekonomi baru: koperasi sektor riil, usaha anggota (UMKM dan usaha besar), sekolah, rumah sakit, pertanian, pasar, wisata, bahkan gerakan budaya dan lingkungan. Peter Davis menegaskan bahwa credit union memiliki potensi menjadi pusat akumulasi modal rakyat yang kemudian dipakai untuk membangun ekonomi lokal milik masyarakat sendiri.

Di sinilah gerakan spin-out, seperti yang digagas oleh Bapak Robby Tulus, menjadi sangat penting.

Banyak credit union berhenti pada tahap konsumsi. Anggota meminjam untuk motor, rumah, atau kebutuhan sesaat. Itu penting. Tetapi kalau berhenti di sana, credit union hanya menjadi pompa air yang terus mengalir keluar tanpa pernah menciptakan sumber air baru.

Gerakan spin-out adalah upaya melahirkan “anak-anak ekonomi” dari credit union. Dari CU lahirlah Koperasi Sektor Riil (KSR): koperasi produksi, koperasi pertanian, koperasi perdagangan, hotel koperasi, lembaga pendidikan (sekolah dan universitas), pusat distribusi, hingga ekosistem UMKM anggota. Credit union menjadi rahim yang melahirkan banyak entitas kehidupan.

Inilah jalan menuju Persemakmuran Koperasi.

Peter Davis menggambarkan bahwa persemakmuran koperasi adalah jaringan komunitas yang saling mendukung: koperasi, usaha keluarga, petani kecil, relawan, sekolah, kelompok budaya, organisasi sosial, dan komunitas lokal. Semuanya terhubung dalam semangat solidaritas dan kesejahteraan bersama.

Artinya, koperasi tidak boleh berdiri sendiri seperti kios di pinggir jalan yang menunggu pembeli datang. Koperasi harus menjadi ekosistem.

Bayangkan sebuah daerah di mana anggota CU bukan hanya menabung dan meminjam. Mereka juga menjual hasil pertanian melalui koperasi pemasaran. Anak-anak mereka sekolah/kuliah di lembaga pendidikan koperasi. Produk mereka dijual di supermarket koperasi. Mereka minum kopi di café koperasi. Mereka bekerja di hotel koperasi. Bahkan ketika sakit, mereka dirawat di klinik atau rumah sakit milik koperasi.

Uang anggota tidak bocor keluar daerah. Ia berputar seperti darah di dalam tubuh sendiri.

Itulah persemakmuran.

Karena itu, komponen Persemakmuran Koperasi sesungguhnya sangat luas. Pertama, harus ada lembaga keuangan rakyat seperti credit union sebagai pusat mobilisasi tabungan dan investasi anggota. Kedua, harus ada koperasi sektor riil yang mengolah produksi dan membuka lapangan kerja. Ketiga, pendidikan anggota menjadi fondasi utama agar anggota tidak hanya menjadi pengguna layanan, tetapi pemilik peradaban koperasi. Keempat, harus ada budaya solidaritas, sukarelawan, kerjasama dan partisipasi aktif anggota. Kelima, perlu ada jejaring komunitas: sekolah, kelompok seni, lingkungan hidup, olahraga, hingga komunitas adat yang memperkuat identitas bersama.

Hal itu sangat nampak seperti yang terjadi di i-Coop, Korea (saya berkunjung ke sana pada 2023). Mungkin juga seperti yang terjadi pada Gerakan Koperasi Mondragon, menurut cerita, karena saya belum pernah ke sana.

Tanpa itu semua, koperasi hanya akan menjadi toko uang.

Dan sejarah menunjukkan banyak koperasi gagal karena lupa pada tujuan besarnya. Peter Davis mengkritik keras gerakan koperasi modern yang terlalu sibuk membagi keuntungan untuk konsumsi jangka pendek, tetapi lupa membangun persemakmuran jangka panjang.

Ibarat petani yang setiap panen langsung menghabiskan semua benihnya. Akibatnya, musim berikutnya ia tidak punya apa-apa untuk ditanam.

Karena itu, koperasi membutuhkan keberanian baru: menanam kembali surplus untuk membangun masa depan bersama.

Gerakan spin-out sebenarnya adalah bentuk modern dari semangat gotong royong lama. Seperti dalam kehidupan masyarakat Dayak, dulu mereka bergotong royong (dalam tradisi Dayak Iban disebut “beduruk” atau “beriny’au”) membangun rumah panjang. Hari ini, gotong royong itu berubah bentuk menjadi pembangunan hotel koperasi, universitas koperasi, pusat perdagangan koperasi, atau industri anggota.

Bedanya, sekarang alatnya lebih modern. Tetapi rohnya tetap sama: solidaritas.

Jalan menuju Persemakmuran Koperasi memang panjang. Ia tidak selesai dalam lima tahun. Bahkan mungkin membutuhkan satu generasi. Tetapi setiap koperasi besar selalu dimulai dari satu hal sederhana: sekelompok orang yang percaya bahwa mereka tidak boleh terus hidup tergantung pada kekuatan luar.

Mereka mulai menabung dan berinvestasi bersama.

Bayangkan! Ini yang saya bayangkan bisa dikerjakan dan sedang dikerjakan. Semua anggota bermimpi memiliki sebuah hotel, Hotel Ladja 2 di Sekadau. Satu anggota berinvestasi Rp 10 ribu per bulan, atau Rp 120 ribu dalam satu tahun. 200.000 anggota CUKK berinvestasi dengan cara itu untuk merealisasikan hotel itu pada tahun 2027. Dalam satu tahun terkumpul Rp 24 miliar. Hotel Ladja 2 berdiri. Dahsyatkan semangat kerja sama, solidaritas, swadaya, dan partisipasi itu!

Jika tahun-tahun berikutnya bergotong royong kembali membangun supermarket, rumah sakit, universitas, dan lainnya, apakah itu akan terjadi?

Para anggota membangun bersama.

Para anggota bermimpi bersama.

Dan ketika mimpi itu mulai menjadi kenyataan, koperasi tidak lagi sekadar lembaga keuangan. Ia berubah menjadi rumah besar tempat manusia menemukan martabatnya kembali.

Diolah dari buku Peter Davis (2025). Refleksi Munaldus, Penasehat inKUR, 20 Mei 2026.

Bagikan