← Kembali ke Berita

PONTIANAK. Selama lima hari, 19 hingga 23 April 2026, delegasi International Cooperative Alliance Asia and Pacific (ICA-AP) bersama Institute for the Development of Agricultural Cooperation in Asia (IDACA) Jepang menyambangi Pontianak dan sejumlah titik di Kalimantan Barat. Kunjungan ini tidak sekadar lawatan formal. Ia menjadi semacam ziarah kerja untuk menelusuri jejak program pelatihan ICA-MAFF yang sudah berjalan lebih dari lima tahun, sekaligus membaca detak gerakan koperasi di akar rumput.

Rombongan yang dipandu inKUR sebagai tuan rumah lokal menapaki tiga medan yang berbeda. Ada rumah produksi berbasis petani, ada credit union berbasis komunitas di daerah perbatasan, dan ada salah satu credit union terbesar di Indonesia. Semua untuk satu pertanyaan yang sama: bagaimana koperasi di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat, menerjemahkan nilai gerakan ke dalam kehidupan nyata?

Hari Pertama: Reuni dengan Alumni ICA-MAFF

Hari pertama kunjungan aktif jatuh pada tanggal 21 April. Delegasi melakukan follow-up kepada para alumni program ICA-MAFF angkatan 2020 hingga 2025, sebuah program pelatihan yang selama ini dikenal sebagai salah satu “sekolah lapangan” untuk pemimpin muda koperasi di Asia Pasifik.

Pertemuan follow-up delegasi ICA-IDACA bersama para alumni ICA-MAFF di kantor inKUR Pontianak
Sesi follow-up bersama alumni ICA-MAFF angkatan 2020 sampai 2025 di kantor inKUR Pontianak.

Pertemuan ini bukan sekadar reuni. Ia adalah evaluasi jujur. Setelah pelatihan selesai, apa yang benar-benar tumbuh di lapangan? Para alumni berbagi cerita tentang inisiatif yang berhasil, kebuntuan yang masih dihadapi, dan ide yang masih mencari bentuk.

Setelah itu, rombongan bertolak ke Kalara Borneo, rumah produksi cokelat bean-to-bar yang didirikan oleh salah satu alumni ICA-MAFF. Di sana, delegasi melihat sendiri bagaimana ilmu yang dibawa pulang dari pelatihan menjelma menjadi rantai pasok kakao yang menghubungkan petani kecil dengan pasar premium.

Delegasi ICA-IDACA mengenakan jas putih di area produksi Kalara Borneo, rumah cokelat bean-to-bar di Pontianak
Di Kalara Borneo, rumah produksi cokelat bean-to-bar yang didirikan oleh salah satu alumni ICA-MAFF.

Dari biji yang dipetik di kebun petani, difermentasi, dikeringkan, hingga dicetak menjadi batangan cokelat, semuanya di bawah satu atap. Kalara Borneo menjadi bukti bahwa pelatihan bisa bertumbuh menjadi usaha nyata, bukan hanya sertifikat di dinding.

Hari Kedua dan Ketiga: Menginap di Balai Karangan

Dari Pontianak, delegasi menempuh perjalanan darat ke Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, untuk bermalam di jantung komunitas CU Mura Kopa. Selama dua hari, 22 dan 23 April, ICA-IDACA berdialog panjang dengan pengurus dan anggota tentang bagaimana gerakan credit union tumbuh di Indonesia, dan mengapa di Kalimantan Barat CU tidak sekadar menjadi lembaga keuangan, tetapi juga tulang punggung sosial komunitas.

Delegasi ICA-IDACA dan pengurus inKUR tiba di Kantor Pusat CU Mura Kopa, Balai Karangan, Kabupaten Sanggau
Tiba di Kantor Pusat CU Mura Kopa, Balai Karangan, Kabupaten Sanggau.

Tidak berhenti di ruang rapat, delegasi turun ke kebun anggota. Mereka bertemu langsung dengan petani dan melihat bagaimana tabungan, pinjaman, serta pendampingan CU Mura Kopa berjalin dengan keseharian: kebun kakao, kebun kacang, ladang cabai, kebun lada, dan lainnya.

Delegasi ICA-IDACA mengunjungi kebun anggota CU Mura Kopa, melihat langsung tanaman cabai, lada, kakao, dan kacang
Turun ke kebun anggota CU Mura Kopa. Di sinilah tabungan, pinjaman, dan pendampingan koperasi bertemu dengan tanah, cuaca, dan harga panen.

Bagi delegasi Jepang, yang terbiasa dengan koperasi pertanian skala nasional, pertemuan ini memberi perspektif baru tentang bagaimana skala kecil bisa menjadi kekuatan besar ketika diikat oleh kepercayaan.

Hari Terakhir: Dialog di Rumah Pancur Kasih

Puncak kunjungan berlangsung di Pontianak, tempat delegasi disambut hangat oleh CU Pancur Kasih, salah satu credit union terbesar di Indonesia. Dialog berlangsung terbuka. Mereka menyentuh sejarah panjang gerakan CU Kalimantan Barat, tantangan regenerasi kepemimpinan, serta bagaimana CU Pancur Kasih menjaga jiwa gerakannya di tengah tuntutan profesionalisasi.

Bagi ICA-AP dan IDACA, pertemuan ini menjadi referensi penting. Sementara bagi Pancur Kasih, ini adalah momen untuk berbagi sekaligus menimbang ulang posisinya dalam peta gerakan koperasi Asia Pasifik.

Lebih dari Sekadar Kunjungan

Lima hari ini menegaskan satu hal. Gerakan koperasi Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat, tidak hidup dalam ruang kosong. Ia terhubung dengan jaringan global, dari Jepang sampai Asia Pasifik, dan sedang ditonton oleh mereka yang percaya bahwa koperasi bukan sekadar bentuk usaha, melainkan cara hidup.

Bagi inKUR, yang menjadi tuan rumah dan jembatan dalam kunjungan ini, agenda ICA-IDACA adalah pengingat. Federasi koperasi tidak cukup hanya mengurus administrasi keanggotaan. Ia harus aktif menghubungkan KSR dan CU di bawah naungannya dengan arus pembelajaran global, supaya ilmu yang datang dari luar tidak berhenti di ruang seminar, tetapi mendarat di kebun petani, di toko koperasi, dan di meja makan anggota.

Bagikan