Pada awalnya, hanya gudang.
Seperti banyak KSR yang kita kenal hari ini-ada toko, ada usaha, ada transaksi. Ada laporan keuangan. Ada target. Ada rapat. Ada angka-angka yang naik dan turun seperti detak jantung yang kadang stabil, kadang gelisah.
Tidak ada yang salah. Tapi juga… belum tentu ada yang benar-benar hidup. Benar-benar bisa bertahan.
Di tempat lain, jauh dari Sekadau, jauh dari Sintang, di sebuah kota kecil bernama Gurye, cerita itu juga pernah dimulai dari hal yang sama: kebutuhan.
Anggota koperasi bertambah. Logistik tidak cukup. Mereka butuh tempat yang lebih besar. Maka dibangunlah sebuah pusat distribusi.
Selesai. Seharusnya selesai.
Tapi rupanya, tidak semua KSR diciptakan untuk berhenti di kata “cukup”.
Di Gurye, sebuah kota kecil di Jeollanam-do, Korea Selatan, sesuatu yang pelan tapi pasti mulai berubah. Seperti benih yang diam di tanah, tapi diam-diam sedang bekerja.
Orang-orang mulai datang, bukan hanya untuk bekerja, tapi untuk melihat. Untuk merasakan. Untuk bertanya: “Kalau sudah ada ini, kenapa tidak sekalian itu?”
Dan dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, dunia kecil mulai tumbuh.
Gudang berubah menjadi ruang. Ruang berubah menjadi tempat. Tempat berubah menjadi kehidupan.
Lahir pabrik. Lahir café. Lahir restoran. Lahir taman. Lahir bioskop.
Bahkan orang bisa datang, duduk di rumput, melihat air mancur, tertawa, berbincang-tanpa harus menjadi anggota, tanpa harus membeli sesuatu.
Bayangkan. Tempat yang dibangun dari uang anggota koperasi… tapi terbuka untuk siapa saja. Tidak ada pagar. Tidak ada penjaga. Tidak ada rasa curiga.
Hanya ada satu pesan yang diam-diam mengalir di setiap sudutnya:
“Ini milik kita-dan karena itu, ini juga untuk semua.”
Lebih dari 150.000 anggota ikut membangun tempat itu. Bukan dengan saham. Tapi dengan kepercayaan.
Mereka tidak sekadar menanam uang. Mereka menanam rasa memiliki. Dan dari situlah lahir sesuatu yang jarang kita temui hari ini-sesuatu yang hampir hilang di dunia modern: kepemilikan bersama yang hidup.
Tempat itu kemudian dikenal sebagai Gurye Natural Dream Park.
Tapi sebenarnya, ia bukan taman. Ia adalah bukti. Bahwa KSR bisa menjadi lebih dari sekadar usaha. Ia bisa menjadi dunia kecil-yang hidup, berdenyut, dan menghubungkan manusia.
Sekarang, mari kita kembali ke kita. Ke KSR-KSR kita yang menjadi anggota inKUR ini. Ke toko-toko kita. Ke unit usaha kita. Ke demplot kita. Ke destinasi wisata kita. Ke hotel kita. Ke laporan-laporan kita.
Apakah kita sedang membangun dunia? Atau kita hanya sedang mengelola usaha?
Ini pertanyaan yang tidak nyaman. Karena jawabannya sering tidak kita ucapkan.
Banyak KSR kita masih seperti gudang. Tempat barang masuk dan keluar. Tempat uang berputar. Tempat transaksi terjadi. Tapi belum menjadi tempat orang ingin datang… hanya untuk merasa menjadi bagian.
Padahal, di situlah letak perbedaan paling mendasar.
Usaha melayani kebutuhan. Tapi dunia… menciptakan makna.
Di Gurye, mereka tidak berhenti pada logistik. Mereka melanjutkan ke kehidupan.
Mereka tidak bertanya: “Berapa keuntungan dari café ini?” Mereka bertanya: “Apakah orang ingin datang ke sini?”
Mereka tidak bertanya: “Berapa ROI dari taman ini?” Mereka bertanya: “Apakah anak-anak bisa berlari di sini?”
Dan anehnya-atau mungkin justru logis-ketika mereka membangun kehidupan, ekonomi justru ikut hidup. Lebih dari 500 orang bekerja di sana. Ratusan ribu orang datang berkunjung. Ekonomi lokal bergerak. Pemerintah daerah tersenyum.
Semuanya tumbuh… bukan karena dikejar. Tapi karena dirawat.
Ada satu hal yang paling penting. Tempat itu tidak diperlakukan sebagai komoditas. Ia tidak dijual. Ia tidak dikunci. Ia dijaga sebagai sesuatu yang lebih dalam:
Commons.
Milik bersama. Dikelola bersama. Dinikmati bersama.
Dan di situlah KSR seharusnya berdiri. Bukan hanya sebagai unit usaha. Tapi sebagai pembangun commons (milik bersama).
inKUR hari ini punya peluang besar. Lebih besar dari yang kita bayangkan. KSR-KSR yang tersebar-toko, agro, produksi, jasa-semuanya bisa menjadi titik-titik kecil. Tapi jika disambungkan… ia bisa menjadi jaringan kehidupan.
Bayangkan suatu hari nanti:
Ada tempat di Kalimantan Barat… yang dibangun oleh anggota KSR… yang di dalamnya ada usaha… ada ruang publik… ada budaya… ada kehidupan…
Tempat di mana orang datang bukan hanya untuk membeli. Tapi untuk merasa. Untuk terhubung. Untuk hidup.
Dan ketika orang bertanya: “Apa itu koperasi?” Kita tidak perlu menjawab panjang lebar. Kita cukup menunjuk: “Datang saja ke sana.”
Karena pada akhirnya… koperasi bukan tentang simpan pinjam. Bukan tentang toko. Bukan tentang unit usaha.
Koperasi adalah tentang keberanian. Keberanian untuk membangun sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.
Dan mungkin, suatu hari nanti… ketika KSR benar-benar menemukan jiwanya… kita tidak lagi berkata: “KSR sedang menjalankan usaha.”
Kita akan berkata: “KSR sedang membangun dunia.”
Gerakan Keling Kumang (GKK) punya lahan luas di Sungai Kunyit, Sekadau. Kapan anggota mau secara bersama-sama membangun lokasi itu menjadi commons, menjadi Gurye Natural Dream Park-nya Indonesia yang dibangun oleh para anggota koperasi secara swadaya dan dengan mentalitas koperasi tingkat dewa?
Atau kita belum punya nyali.
Diolah dari tulisan Yeom, Chan Hee (2023), Creating A New Commons: A Case Study of iCOOP’s Natural Dream Park, iCOOP Co-operative Institute.