← Kembali ke Berita

Hangzhou, 1-4 September 2026. Gerakan koperasi Indonesia hadir lewat dua jalur di Asia Pacific Cooperative Youth Summit (APCYS) 5.0 di Hangzhou, Tiongkok. Koperasi anggota inKUR, KJMP Sasuka Teknologi Indonesia, bertanding di Coop Pitch hingga babak final, sementara CEO inKUR, Paulus Ohio, berbicara di sesi pleno tentang koperasi di era ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI).

APCYS 5.0 diselenggarakan oleh International Cooperative Alliance Asia and Pacific (ICA-AP) bersama Komite Kerja Sama Pemuda (ICYC), dengan tuan rumah All China Federation of Supply and Marketing Cooperatives (ACFSMC) dan Zhejiang Institute of Economics and Trade (ZJIET), serta didukung Kemitraan ICA-Uni Eropa. Sekitar 130 koperator muda, pembuat kebijakan, pegiat teknologi, dan pemimpin koperasi dari 13 negara hadir dengan tema "Future-Ready Cooperatives: Youth Shaping Ethical AI and Digital Economies". Tahun ini sekaligus menandai sepuluh tahun APCYS, yang pertama kali digelar di Bali, Indonesia, pada 2016.

Sasuka Teknologi Indonesia Menembus Final Coop Pitch

Coop Pitch adalah ajang adu gagasan usaha koperasi bagi anak muda Asia Pasifik. Dari 24 tim yang lolos seleksi awal dari 13 negara, Indonesia diwakili satu tim, yaitu KJMP Sasuka Teknologi Indonesia. Tim ini berhasil masuk ke babak final yang hanya diikuti sembilan tim, bersaing dengan tim dari Tiongkok, Fiji, India, Jepang, Filipina, Vietnam, dan Palestina.

Putri Nawang Wulan dan Hutri Nuryani dari KJMP Sasuka Teknologi Indonesia mempresentasikan gagasan mereka di final Coop Pitch APCYS 5.0, Hangzhou
Putri Nawang Wulan (kiri) dan Hutri Nuryani (kanan) dari KJMP Sasuka Teknologi Indonesia di final Coop Pitch APCYS 5.0.

Tim Sasuka dipimpin Hutri Nuryani, Sekretaris dan Chief Marketing Officer KJMP Sasuka Teknologi Indonesia, bersama Putri Nawang Wulan. Mereka mempresentasikan Smart Cooperative Platform berbasis AI untuk mendukung transformasi digital koperasi: chatbot untuk layanan anggota, analitik transaksi, rekomendasi produk, dan asisten manajemen bagi pengurus. Gagasan ini menjawab persoalan yang akrab bagi banyak koperasi di Indonesia: proses bisnis yang belum terintegrasi, data yang belum dimanfaatkan, dan layanan anggota yang masih manual.

Pesan yang dibawa tim Sasuka sejalan dengan tema summit. Seperti disampaikan Hutri, teknologi harus memperkuat prinsip koperasi, bukan menggantikannya. Selain di Coop Pitch, Sasuka juga tampil di sesi Youth Open Mic and Story Circle, berbagi cerita tentang bagaimana transformasi digital bisa membuat koperasi lebih inklusif, terhubung, dan tangguh.

Layar besar menampilkan profil tim KJMP Sasuka Teknologi Indonesia saat pitching di Auditorium ZJIET, dengan penonton berkaos inKUR di barisan depan
Profil tim Sasuka di layar Auditorium ZJIET. Di barisan penonton, dukungan dari inKUR ikut terlihat.

Semangat itu berlanjut sepulang dari Hangzhou. Pada 17 September 2026, Sasuka menggelar perbincangan "From APCYS to Action" bersama Dinas Koperasi dan UKM DIY untuk membawa gagasan dari summit ke gerakan koperasi muda di Yogyakarta.

Plenary Jam: Bagaimana inKUR Memakai AI

Pada 2 September 2026, Paulus Ohio menjadi panelis Plenary Jam: Future-Ready Cooperatives in the Digital Economy di Auditorium ZJIET, bersama Ho Wei Liang (Global Youth AI Advisory Body), Song Dongpo (pendiri MiFly Airline Coop, Tiongkok), dan Dulce Bustamante Delmo (Ketua ICYC), dipandu Yuyu Chen dari UNRISD.

Sesi Plenary Jam Future-Ready Cooperatives in the Digital Economy di Auditorium ZJIET, Hangzhou, dengan lima pembicara di panggung
Plenary Jam di Auditorium ZJIET. Layar menampilkan jajak pendapat peserta: pada 2035, berapa persen kegiatan koperasi yang akan digerakkan AI?

Dalam paparannya, Paulus berangkat dari kenyataan di lapangan. Sebagian besar koperasi anggota inKUR berada di daerah perdesaan, tempat akses digital dulu terasa sulit. Kini, dengan bantuan AI, pengurus dan manajer koperasi bisa menjangkau alat yang mereka butuhkan untuk menjalankan usaha dan melayani anggota jauh lebih mudah. Catatan keuangan, data keanggotaan, dan transaksi yang dulu dikerjakan manual dan kerap hilang, kini lebih rapi dan jauh lebih sedikit salahnya.

Di inKUR sendiri, AI sudah dipakai di hampir separuh pekerjaan manajerial. Namun Paulus menegaskan, AI selalu menjadi alat, bukan pengganti. Setiap hasil kerja AI diperiksa ulang secara manual, dan keputusan tetap diambil lewat musyawarah antarmanusia dan antarlembaga, dengan akal sehat dan hati nurani, baru kemudian dirapikan dengan bantuan AI.

Satu hal yang menurutnya harus dijaga: data. Data ibarat uang dalam bentuk yang tak terlihat, sangat berharga dan berbahaya bila jatuh ke tangan yang salah. Karena itu inKUR membangun sistem data terpusat yang dimiliki dan dirancang koperasi sendiri, tidak bergantung pada pihak luar. Lewat inKUR Link, yang dibangun bersama Sasuka Teknologi Indonesia, koperasi anggota seperti Koperasi Keling Kumang Union, Koperasi Keling Kumang Agro, dan Koperasi Keling Kumang Tampun Juah kini terhubung dalam satu data, menjadi fondasi untuk memanfaatkan AI di usaha anggota secara aman.

Paulus menutup dengan satu kalimat yang menjadi benang merah paparannya: biarkan AI menentukan kecepatan, tetapi data tetap milik kita dan keputusan tetap di tangan manusia.

Moderator dan para panelis Plenary Jam APCYS 5.0, termasuk Paulus Ohio dari inKUR, berfoto di panggung
Moderator dan para panelis Plenary Jam seusai sesi.

Lokakarya, Policy Hack, dan Kunjungan Lapangan

Selama empat hari, peserta juga mengikuti lokakarya membangun dasbor dan situs berbasis AI untuk koperasi, Policy Hack Dialogue untuk merancang usulan kebijakan AI yang beretika, serta kunjungan ke Alibaba, iFlytek, dan Hangzhou Sixiang Agricultural Professional Cooperative. Juara Coop Pitch diraih Reframing Architects Cooperative (Palestina), disusul Chongxing Technology (Tiongkok) dan Chuc Son Smart Growth Cooperative (Vietnam).

Pesan yang Dibawa Pulang

Dari Hangzhou, pesan yang paling kuat terdengar sederhana: memasang AI ke dalam model usaha tidak otomatis membuatnya kooperatif. Yang menentukan adalah nilai apa yang dilayani teknologi itu dan seberapa besar manfaatnya kembali kepada anggota. Langkah Sasuka di Coop Pitch dan cara inKUR memakai AI menunjukkan arah yang sama: teknologi dibangun bersama, dimiliki bersama, dan dipakai untuk memperkuat usaha anggota.

inKUR adalah federasi nasional koperasi sektor riil yang disahkan sebagai badan hukum pada Mei 2017, berkantor pusat di Pontianak, dan tergabung dalam International Cooperative Alliance (ICA). KJMP Sasuka Teknologi Indonesia adalah koperasi anggota inKUR yang bergerak di bidang teknologi.

Asia Pacific Cooperative Youth Summit 5.0 berlangsung pada 1-4 September 2026 di Hangzhou, Tiongkok. Sumber: ICA-AP, Universitas Negeri Surabaya, dan dokumentasi inKUR. Foto: dokumentasi resmi APCYS 5.0.

Bagikan