Hanoi, awal Mei 2026. Di panggung Konferensi ICA Asia Pacific, inKUR (Induk Koperasi Usaha Rakyat Indonesia) hadir membawa satu cerita yang utuh: bagaimana sebuah federasi nasional koperasi sektor riil merangkai rantai pasok kakao Kalimantan Barat dari kebun rakyat hingga industri ekspor. Pemaparan itu disampaikan oleh Yohana Tamara Yunisa, mewakili inKUR di sesi yang dirangkum Sekretaris Regional ICA Asia Pacific Balu Iyer sebagai “Women, Cooperatives, and Change”.
Sesi tersebut mempertemukan inKUR dengan tiga organisasi koperasi perempuan lain dari Jepang, Vietnam, dan Bhutan, dalam rangka tahun 2026 yang ditetapkan sebagai International Year of Women Farmers.
Yang Dibawa inKUR ke Meja Hanoi
Yang dipaparkan inKUR bukan satu titik usaha, melainkan sebuah arsitektur. Di Kalimantan Barat, inKUR memberikan pendampingan dan arahan kepada beberapa Koperasi Sektor Riil (KSR) anggotanya yang masing-masing mengambil peran berbeda di rantai kakao.
Keling Kumang Agro mengelola rumah bibit kakao di Sintang sekaligus menjalankan pendampingan petani di lapangan. Dari sini, kontinuitas bibit unggul dan transfer pengetahuan teknis ke petani kebun rakyat dipastikan.
Bina Tapang Mandiri, KSR anggota inKUR, menjalankan pendampingan petani sekaligus pembelian biji kakao. Posisinya sebagai simpul agregasi memberi kepastian pasar bagi petani anggota di hulu.
MK Agro, yang akan segera bergabung sebagai anggota inKUR pada 2026, sudah mulai melakukan pendampingan dan pembelian biji kakao seiring persiapan keanggotaannya. Penambahan simpul ini memperluas kapasitas agregasi dan memperkuat jangkauan ke petani di wilayah baru.
Tiga KSR ini terhubung di sisi hilir dengan Kalara Borneo, rumah produksi cokelat bean-to-bar yang didirikan alumni ICA-MAFF. Kolaborasi tersebut memastikan serapan hasil petani dengan harga premium dan standar bebas deforestasi, sekaligus membuka pintu ke pasar ekspor internasional.
Peran inKUR sebagai Induk
Yang dilakukan inKUR di Kalbar adalah orkestrasi: bukan menjalankan satu unit usaha sendiri, melainkan memastikan KSR-KSR anggota memiliki posisi yang jelas di sepanjang rantai. Pendampingan, arahan strategis, dan pendanaan kolektif dari jaringan anggota menjadi tulang punggung pola kerja ini.
Pendekatan tersebut menerjemahkan enam pilar yang dirangkum ICA Asia Pacific sebagai kunci keberhasilan koperasi perempuan, yaitu Mindset, Motivate, Mentorship, Money, Market, Momentum, ke dalam praktik harian: dari rumah bibit di Keling Kumang Agro di hulu, pendampingan dan agregasi di Bina Tapang Mandiri dan MK Agro, hingga akses pasar premium lewat Kalara Borneo di hilir.
Berbagi Panggung dengan Asia Pasifik
Di sesi yang sama, inKUR berbagi mimbar dengan tiga organisasi koperasi perempuan dari kawasan. Kumi Nishikawa dari JA Zenkoku Joseikyo (Jepang) memperkenalkan gerakan grow local, eat local. Dao Than Hao dari Hao Dat Tea Cooperative (Vietnam) berbagi cara menyeimbangkan tradisi dan modernisasi di sektor teh. Devika Chhetri dari Chhukha Sanam Namley Tshogdey Cooperative (Bhutan) mengangkat nilai solidaritas dan pelestarian budaya. Empat organisasi, satu benang merah: koperasi yang menempatkan perempuan dan komunitas di pusat strategi.
Undangan untuk KSR Lain
Kehadiran inKUR di Hanoi mempertegas posisinya sebagai anggota International Cooperative Alliance (ICA) yang aktif. Disahkan sebagai badan hukum koperasi induk dengan nama Induk Koperasi Usaha Rakyat (inKUR) pada Mei 2017, federasi ini hari ini menaungi 18 KSR di 4 provinsi: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Lampung, dan Maluku.
Dari panggung Hanoi, ada satu pesan yang dibawa pulang untuk seluruh jaringan: rantai kakao Kalbar sudah berjalan, namun ruang untuk tumbuh masih sangat luas. KSR-KSR lain di lingkar inKUR yang tertarik pada sektor kakao diundang untuk ikut masuk, baik di sisi pendampingan petani, agregasi biji, maupun pengembangan kebun. Ekosistem yang sudah ada akan jauh lebih kuat bila lebih banyak KSR berdiri bersama di dalamnya.
Tahun 2026 sebagai International Year of Women Farmers menjadi konteks yang pas. Cerita inKUR di Hanoi adalah jawaban Indonesia atas tema tahun ini: bahwa koperasi sektor riil, ketika dipandu oleh induknya dan diisi bersama oleh KSR-KSR anggota, adalah ruang paling subur untuk membesarkan kepemimpinan perempuan dan ekonomi rakyat.
Disarikan dari laporan Balu Iyer (Sekretaris Regional ICA Asia Pacific), “Women, Cooperatives, and Change: Inspiring Stories from the ICA-AP Hanoi Conference”, 7 Mei 2026.
Hanoi, early May 2026. At the ICA Asia Pacific Conference, inKUR (the National Federation of People-based Cooperative Enterprises of Indonesia) brought a single, integrated story: how a national federation of real-sector cooperatives weaves the cocoa supply chain of West Kalimantan from smallholder farms to export industry. The presentation was delivered by Yohana Tamara Yunisa representing inKUR, in a session later framed by ICA Asia Pacific Regional Director Balu Iyer as “Women, Cooperatives, and Change”.
The session placed inKUR alongside three other women-led cooperative organizations from Japan, Vietnam, and Bhutan, within the frame of 2026 as the International Year of Women Farmers.
What inKUR Brought to the Hanoi Table
What inKUR presented was not a single business, but an architecture. In West Kalimantan, inKUR provides accompaniment and strategic direction to several of its member Real Sector Cooperatives (KSR), each taking a distinct role along the cocoa chain.
Keling Kumang Agro runs a cocoa seedling nursery in Sintang together with farmer accompaniment in the field. From there, the continuity of quality seedlings and the transfer of technical knowledge to smallholder farmers are secured.
Bina Tapang Mandiri, an inKUR member KSR, conducts farmer accompaniment together with cocoa bean purchasing. Its position as an aggregation node provides market certainty for member farmers upstream.
MK Agro, which will soon join inKUR as a member in 2026, has already begun accompaniment and cocoa bean purchasing as part of its preparation for membership. This new node expands aggregation capacity and extends reach to farmers in new areas.
These three KSR connect downstream to Kalara Borneo, a bean-to-bar chocolate house founded by an ICA-MAFF alumnus. The collaboration secures premium absorption of farmer output under deforestation-free standards, and opens the door to international export markets.
inKUR’s Role as a Federation
What inKUR is doing in West Kalimantan is orchestration: not running a single business unit on its own, but ensuring its member KSR each have a clear position along the chain. Accompaniment, strategic direction, and collective financing from the member network form the backbone of this work.
That approach translates the six pillars identified by ICA Asia Pacific as keys to the success of women-led cooperatives, Mindset, Motivate, Mentorship, Money, Market, Momentum, into daily practice: from the seedling nursery at Keling Kumang Agro upstream, through accompaniment and aggregation at Bina Tapang Mandiri and MK Agro, to premium market access via Kalara Borneo downstream.
Sharing the Stage with Asia Pacific
In the same session, inKUR shared the floor with three other women-led cooperative organizations from the region. Kumi Nishikawa of JA Zenkoku Joseikyo (Japan) introduced the grow local, eat local movement. Dao Than Hao of Hao Dat Tea Cooperative (Vietnam) shared ways of balancing tradition and modernization in the tea sector. Devika Chhetri of Chhukha Sanam Namley Tshogdey Cooperative (Bhutan) carried forward solidarity and cultural preservation. Four organizations, one common thread: cooperatives that place women and community at the center of strategy.
An Invitation to Other KSR
inKUR’s presence in Hanoi reaffirms its standing as an active member of the International Cooperative Alliance (ICA). Legally established as Induk Koperasi Usaha Rakyat (inKUR) in May 2017, the federation today brings together 18 KSR across 4 provinces: West Kalimantan, Central Kalimantan, Lampung, and Maluku.
From the Hanoi stage, one message is brought back to the whole network: the West Kalimantan cocoa chain is already running, yet the room to grow remains wide. Other KSR within inKUR’s circle that are interested in the cocoa sector are invited to step in, whether on farmer accompaniment, bean aggregation, or plantation development. The ecosystem already in place will be much stronger when more KSR stand inside it together.
2026 as the International Year of Women Farmers provides the right backdrop. inKUR’s story in Hanoi is Indonesia’s answer to this year’s theme: that real-sector cooperatives, when guided by their federation and populated together by member KSR, are the most fertile ground for growing women’s leadership and a people’s economy.
Adapted from a report by Balu Iyer (Regional Director, ICA Asia Pacific), “Women, Cooperatives, and Change: Inspiring Stories from the ICA-AP Hanoi Conference”, May 7, 2026.