Kita sering salah paham tentang koperasi.
Kita pikir koperasi itu toko. Tempat jual beli. Tempat transaksi. Tempat mencari selisih harga.
iCOOP di Korea membantah itu-diam-diam, tapi telak.
Mereka tidak memulai dari toko. Mereka tidak memulai dari bisnis. Mereka memulai dari kegelisahan.
Kegelisahan seorang ibu yang bertanya: makanan yang saya berikan ke anak saya ini aman atau tidak?
Pertanyaan sederhana. Tapi dari situlah sebuah gerakan lahir.
Di banyak tempat, bisnis dimulai dari peluang.
Di iCOOP, bisnis dimulai dari kekhawatiran.
Tentang kesehatan. Tentang lingkungan. Tentang kehidupan.
Mereka tidak berkata: “Apa yang bisa kita jual?”
Mereka bertanya: “Apa yang salah dengan kehidupan kita?”
Dari situ muncul satu konsep yang pelan-pelan mengubah segalanya: ethical consumption.
Konsumsi yang sadar.
Bukan sekadar membeli. Tapi memilih.
Memilih produk yang sehat. Memilih produsen yang adil. Memilih cara hidup yang benar.
Di titik ini, koperasi berubah wajah.
Ia bukan lagi organisasi ekonomi.
Ia menjadi gerakan kesadaran.
iCOOP tidak berhenti di situ.
Mereka tahu, kesadaran tanpa sistem akan cepat mati.
Maka mereka membangun sesuatu yang jarang dilakukan koperasi lain: ekosistem.
Bukan satu unit usaha. Tapi satu sistem utuh.
Di dalamnya ada anggota sebagai konsumen. Ada petani sebagai produsen. Ada logistik. Ada toko. Ada lembaga pendukung.
Semua terhubung. Semua saling menguatkan.
Di banyak koperasi, hubungan dengan produsen adalah hubungan dagang.
Di iCOOP, itu hubungan kepercayaan.
Mereka tidak mencari harga termurah. Mereka mencari harga yang adil.
Mereka tidak menekan petani. Mereka mendampingi petani.
Mereka tidak hanya membeli produk. Mereka membangun kehidupan bersama.
Di sinilah perbedaan itu menjadi jelas.
Retail biasa menjual barang. iCOOP menjual nilai.
Retail biasa mengejar margin. iCOOP menjaga kehidupan.
Dan karena itu, mereka mengambil langkah yang sangat strategis: menguasai distribusi.
Mereka membangun logistik sendiri. Mereka mengelola toko sendiri.
Mengapa?
Karena mereka tahu: kepercayaan tidak bisa diserahkan kepada pihak lain.
Jika distribusi lepas, kualitas ikut lepas. Jika kualitas lepas, kepercayaan runtuh.
Dan sekali kepercayaan runtuh, semuanya selesai.
iCOOP tidak mau itu terjadi.
Mereka menjaga setiap mata rantai. Dari ladang sampai meja makan.
Tapi yang paling menarik bukan itu.
Yang paling menarik adalah arah gerakan mereka.
Mereka tidak berhenti pada ekonomi.
Mereka masuk ke kesehatan. Lingkungan. Pendidikan. Komunitas.
Mereka menyebutnya: Lifecare Movement.
Koperasi tidak lagi sekadar hadir saat anggota butuh barang.
Koperasi hadir dalam kehidupan.
Coba kita berhenti sejenak.
Bandingkan dengan koperasi kita.
Apakah koperasi kita hadir dalam kehidupan anggota? Atau hanya hadir saat anggota butuh pinjaman?
iCOOP memberi kita cermin. Dan cermin itu tidak selalu nyaman.
Ada satu pelajaran penting dari perjalanan mereka.
Mereka tumbuh. Mereka menjadi besar. Tapi mereka tidak kehilangan arah.
Padahal di situlah banyak koperasi jatuh.
Ketika kecil, idealisme tinggi. Ketika besar, idealisme hilang.
Digantikan oleh target. Digantikan oleh angka. Digantikan oleh ambisi.
iCOOP menghadapi tantangan yang sama.
Pasar berubah cepat. Kompetitor datang dari mana-mana. Anggota semakin kritis.
Tapi mereka tetap bertahan pada satu hal: nilai.
Mereka tidak bertanya: “Bagaimana kita bisa lebih untung?”
Mereka bertanya: “Apakah kita masih benar?”
Pertanyaan kedua itu jauh lebih sulit.
Tapi justru itu yang menjaga mereka tetap hidup.
Bagi kita-yang sedang membangun koperasi, credit union, atau KSR-pelajaran ini sangat jelas.
Koperasi tidak cukup dibangun dengan modal. Koperasi harus dibangun dengan kesadaran.
Tidak cukup dengan sistem. Harus dengan nilai.
Tidak cukup dengan unit usaha. Harus dengan ekosistem.
Jika tidak, kita hanya akan menjadi lembaga biasa. Mungkin besar. Tapi tidak bermakna.
iCOOP menunjukkan satu hal yang sederhana, tapi sering kita lupakan:
Koperasi yang sejati tidak menjual barang. Ia membentuk cara hidup.
Dan mungkin, di situlah letak masa depan koperasi.
Bukan pada seberapa besar asetnya. Tetapi pada seberapa dalam ia masuk ke dalam kehidupan anggotanya.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi: “Berapa omzet koperasi kita?”
Tetapi: “Apakah koperasi kita masih punya jiwa?”
Diolah dari presentasi iCOOP dengan judul: [iCOOP] History and Business (2023).